Semakin banyak yang Anda ketahui, semakin besar peluang Anda untuk membantu diri Anda sendiri.
Di samping perubahan fisik, umumnya diabetes juga menimbulkan ketegangan emosi yang lebih besar dan perasaan yang kuat.
Dan ini tidak diragukan lagi. Bukti telah menunjukkan bahwa diabetes beserta komplikasinya berkaitan erat dengan gangguan psikologi dan psikiatri. Termasuk di dalamnya adalah depresi, kecemasan, stres, kebiasaan makan yang buruk, dan takut akan hipoglikemia. Di samping itu, penderita diabetes melitus tipe 2 (T2DM) juga berisiko dua kali lebih tinggi mengalami komorbid depresi dibandingkan dengan kontrol yang sehat, sehingga mengganggu kualitas hidup mereka.1
Mengetahui bahwa Anda mengidap diabetes dapat membuat Anda merasa cemas, sedih, atau marah. Ini semua tentunya merupakan perasaan yang dapat dimaklumi, namun sejatinya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan Anda!
Pikirkan, misalnya, amarah sebagai sumber energi. Pilihlah untuk menggunakannya dalam melakukan sesuatu yang positif bagi kesehatan Anda, misalnya olahraga.
Tetapi bagaimana jika Anda masih merasa “ini seharusnya tidak terjadi pada saya”? Atau bahwa “mungkin ada kekeliruan”, artinya Anda mungkin sedang dalam fase menyangkal, salah satu bentuk reaksi ketika sesuatu yang luar biasa dan tidak terduga terjadi.
Mulailah dengan membuat penyesuaian semaksimal mungkin dan dengan bantuan dokter dan dukungan keluarga dan teman-teman Anda, Anda akan mulai terbiasa dengan mencatat hasil tes gula darah Anda, obat-obatan, janji temu, pola makan, dan olahraga.
Dengan target dalam hal-hal seperti pola makan sehat, berolahraga, dan belajar. Rencana yang baik akan membuat Anda tetap terkendali.
Langkah ini dapat membantu Anda mengelola pikiran Anda, melampiaskan, dan bahkan mengenali pemicu emosi Anda – mengenali pola akan berguna di kemudian hari dalam menyikapi hal-hal yang mengganggu Anda.
Mengalami suatu kondisi yang serius dapat membuat Anda merasa terkucilkan dari dunia. Kunjungi keluarga, teman, atau kelompok dukungan dan sampaikan dengan jujur apa yang Anda rasakan kepada mereka. Terapis yang baik juga dapat membantu Anda dalam tahap ini jika Anda perlu meluapkan dan mengungkapkan emosi Anda.
Ada kalanya kita merasa sedih, tetapi depresi adalah lebih dari sekadar merasa sedih.
Depresi dapat menguras semua energi dan harapan. Di samping itu, kita mengetahui bahwa penderita diabetes berisiko dua kali lebih tinggi mengalami komorbid depresi dibandingkan dengan kontrol yang sehat.1
Dengan begitu, depresi mungkin akan sulit dikenali sehingga mengacaukan perawatan diri Anda.
Jika Anda mengalami setidaknya tiga dari gejala tersebut di atas — atau jika Anda merasa depresi dan pernah mengalami satu atau beberapa gejala selama lebih dari 2 pekan — Anda mungkin mengalami depresi dan harus berkunjung ke dokter Anda segera.3
Bertindak cepat dapat membantu dalam proses pemulihan yang lebih cepat.
Kebutuhan terus-menerus untuk mengelola diabetes ada kalanya membuat seseorang merasa kewalahan, khususnya jika Anda memiliki banyak tanggung jawab lainnya dalam hidup Anda. Ada kalanya Anda mungkin merasa membutuhkan liburan. Istilah “diabetes angst” (kecemasan diabetes), sebagaimana yang disiratkan namanya, lebih dari sekadar kekhawatiran. Inilah dampak dari diabetes terhadap kesehatan mental Anda: perpaduan antara kecemasan, frustrasi, depresi, stres, dan banyak lagi.
Jika kesedihan berubah menjadi depresi atau stres berubah menjadi kecemasan, Anda harus mendapatkan bantuan. Konsultasikan dengan dokter atau terapis Anda terkait apa yang Anda rasakan. Tidak perlu malu jika Anda membutuhkan bantuan untuk mengelola emosi Anda. Di samping itu, terdapat beberapa langkah praktis yang dapat membantu meningkatkan kebugaran Anda.
Olahraga dapat mengurangi depresi, kecemasan, dan stres. Melakukan pilates, yoga, gym, atau cukup dengan berjalan kaki di alam bebas dapat.
Buatlah rutinitas malam dan berangkatlah tidur pada waktu yang sama setiap hari. Anda akan menyadari bahwa semuanya akan terasa lebih mudah setelah melewati tidur malam yang berkualitas.
Tidak ada yang sempurna dan jika Anda membuat kesalahan, maka tenanglah.
Temukan cara sehat untuk memperlakukan diri Anda sendiri sehingga tidak terasa seperti bekerja sepanjang waktu. Berikan penghargaan kepada diri Anda sendiri jika target Anda tercapai.
Emosi negatif akan semakin menguat saat Anda merasa sendiri. Kunjungi keluarga dan teman sesering mungkin. Sampaikan secara jujur kepada mereka tentang apa yang Anda rasakan dan alami mungkin mereka akan menawarkan untuk membantu.
Mulai dari latihan pernapasan dalam hingga meditasi, cobalah berbagai cara baru agar tetap tenang.
Semakin banyak yang Anda ketahui, semakin besar peluang Anda untuk membantu diri Anda sendiri.
Pengelolaan emosional dalam diabetes juga tidak kalah penting!
Penurunan berat badan merupakan langkah dasar dalam pengobatan diabetes.
Pola makan yang kaya serealia utuh dapat membantu menurunkan risiko terkena diabetes.
1. Kalra, Sanjay et al. “Emotional and Psychological Needs of People with Diabetes.” Indian journal of endocrinology and metabolism vol. 22,5 (2018): 696-704. doi:10.4103/ijem.IJEM_579_17.
2. ADA, Understanding diabetes and mental Health. Tersedia di: https://www.diabetes.org/healthy-living/mental-health. Diakses Juni 2022
3. WebMD, Tip untuk Kesehatan Emosional yang Lebih Baik dengan Diabetes, Tersedia di: https://www.webmd.com/diabetes/type-2-diabetes-guide/diabetes-emotional-mental-health#1. Diakses Juni 2022
ID-NONT-00224